PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III

MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW

Sri Turi Saenah N

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka

min13jaktim.srituri@gmail.com

 

ABSTRAK

Peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan Pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw di MI Cawang Jakarta Timur.

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas III di MI Dakwah Islamiyah Cawang Jakarta Timur. Metode penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dua siklus dan setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi siklus berkenti ketika indikator keberhasilan telah tercapai.

Dari hasil observasi pada saat proses pembelajaran siswa memberikan respon yang positif terhadap model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw yang diterapkan siswa dapat saling membantu dan mengajarkan kepada temannya dalam memahami materi. Siswa juga merasa senang karena dengan model ini dapat memudahkan siswa dalam menyerap materi yang diajarkan Model pembelajaran ini juga dapat menumbuhkan solidaritas dan tanggung jawab siswa.

Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan hasil belajar pada setiap siklus. Ditunjukan dengan nilai rata-rata N-Gain pada siklus I sebesar 0,27% dan terjadi peningkatan pada siklus II 0,50%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas III di MI Dakwah Islamiyah Cawang Jakarta Timur.

 

Kata Kunci      : Hasil belajar, IPS, Cooperative Learning, Tipe Jigsaw

 

 

 

  1. PENDAHULUAN

 

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam memperbaiki mutu sumber daya manusia. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut adanya perubahan dan perkembangan di segala aspek pendidikan. Upaya meningkatkan mutu pendidikan diharapkan dapat meningkatkan harkat martabat manusia Indonesia dimulai dari tingkat dasar (SD dan MI). Oleh karena itu, peningkatan dan pembaharuan dalam bidang pendidikan harus terus dilakukan agar tujuan dari pendidikan nasional dapat tercapai.

Salah satu pembaharuan yang dilakukan dalam bidang pendidikan yaitu dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Menurut Nasution (Isjoni, 2007: 21) mengemukakan bahwa : “Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ialah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan sosialnya.” Bahan ajarnya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi dan tata negara. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bersumber dari berbagai ilmu sosial yang diintegrasikan menjadi satu ke dalam mata pelajaran.

Menurut Supria (2008: 119) : “Dengan demikian pembelajaran IPS di SD atau MI merupakan bagian integral dari bidang studi. Pada tingkat dasar (SD atau MI) terdapat dua bahan kajian IPS, yaitu bahan kajian pengetahuan sosial mencakup lingkupan sosial yang terdiri atas ilmu bumi, ekonomi dan pemerintahan dan bahan kajian sejarah meliputi perkembangan masyarakat Indonesia sejak lampau hingga masa kini.”

Pembelajaran IPS pada tingkat sekolah dasar memerlukan stimulan yang besar serta berbagai variasi pendekatan untuk mendapatkan partisipasi peserta didik. Akan tetapi kondisi kelas juga harus tetap dijaga supaya tidak kehilangan kendali dan disiplin. Diketahui bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru dan tidak menggunakan metode pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa untuk belajar yang menyenangkan.

Guru masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab tanpa diselingi metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa, sehingga siswa terlibat malas untuk belajar. Sebagian siswa asik bermain sendiri dan bergurau dengan temannya. Siswa kurang diberikan kebebasan untuk kreativitas selama pembelajaran. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan metode konvensional atau metode ceramah cenderung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga guru terlihat lebih aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam pembelajaran dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipahami. Suasana belajar di kelas menjadi sangat monoton dan kurang menarik sehingga hasil belajar siswa menurun dengan nilai rata-rata 58 (lima puluh delapan) hal ini masih jauh di bawah KKM yang telah ditetapkan yaitu 60 (enam puluh). Dengan demikian peneliti akan menoba meningkatkan pembelajaran IPS melalui pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw.

Model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw adalah suatu model pembelajaran kelompok. Setiap kelompok diberi materi yang berbeda. Dalam penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempresentasekan laporannya kepada seluruh kelas (Suprijono, 2009: 54)

Penulis memakai model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw ini karena metode pembelejaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan tipe-tipe yang lain. Pertama menguji kesiapan siswa dalam mempresentasikan hasil diskusi yang harus dubacakan di depan kelompok lain. Kedua, melatih membaca dan memahami dengan cepat karena sebelum model pembelajaran tipe jigsaw ini dilakukan, setiap kelompok diberi materi yang berbeda. Ketiga, dengan menggunakan model pembelajaran tipe ini, siswa akan berusaha lebih giat belajar dengan mempersiapkan untuk belajar lebih dahulu sebelum ke sekolah.

 

  1. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dan menggunakan model pembelajaran pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw, siswa terlibat langsung dalam proses belajar mengajar. Tipe jigsaw ini meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap pembelajaran sendiri dan juga pembelajaran orang lain dilihatkan oleh guru dalam mengikuti pelajaran IPS dengan antusias dan memudahkan siswa dalam memahami konsep dan menyerap ilmu yang diberikan. Dengan demikian diharapkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS khususnya akan meningkat.

Dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan empat kegiatan yang dilakukan dalam dua siklus. Siklus ini dapat berhenti jika telah tercapai tujuan pembelajaran dengan nilai > 6, hal ini sesuai dengan KKM yang berlaku pada MI Dakwah Islamiyah Cawang Baru. Empat kegiatan utama yang ada pada tiap siklus, yaitu:

  1. Perencanaan (Planning)

Peneliti merencanakan tindakan yang akan dilakukan selama proses belajar mengajar  langsung. Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi dan soal pos test Siklus I dan II.

  1. Tindakan (Acting)

Pada tahap tindakan ini peneliti melaksanakan apa yang telah direncanakan pada tahap perencanaan.

  1. Pengamatan (Observation)

Peneliti melakukan pengamatan pada siswa selama proses belajar mengajar berlangsung dengan lembar observasi.

  1. Refleksi (Reflection)

Pada tahap ini peneliti menganalisis data yang telah diperoleh dari kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Hasil ini kemudian dianalisis dan akan digunakan untuk merencanakan tindakan selanjutnya.

 

  1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  1. Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran
  2. Siklus I

1)      Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan Siklus I dimulai dengan menyiapkan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan media, menyiapkan soal pre test dan post test siklus I, tentang lingkungan alam dan buatan, kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari 5-6 orang secara heterogen dan keperluan pembelajaran lainnya.

Materi yang akan dibahas pada siklus I ini mengenai lingkungan alam dan buatan. Sebelum materi ini disampaikan kepada siswa terlebih dahulu peneliti memberikan kesempatan bertanya kepada siswa. Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw pembelajaran dilakukan dalam dua kali pertemuan.

2)      Tahap Pelaksanaan

Pada siklus I tahap pelaksanaan dibagi dilakukan dua kali pertemuan dengan materi lingkungan alam dan buatan. Pada materi ini diberikan, siswa sudah berada di dalam kelas. Adapun uraian proses pembelajaran pada siklus I sebagai berikut :

1)      Pertemuan Pertama

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ini dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2012 dengan materi lingkungn alam dan buatan. Pembelajaran dimulai pada pukul 07.30 s/d 08.50 WIB. Pada pertemuan ini semua siswa hadir.

Sebelum pembelajaran dimulai, peneliti memberikan tes awal (Pre Test) dengan tes pilihan ganda sebanyak 10 soal. Tujuannya untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan dipelajari, peneliti dibantu oleh guru mata pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung untuk menilai peneliti selama mengajar di kelas dan membantu mengamati aktivitas siswa selama belajar mengajar di kelas berlangsung yang bertujuan untuk memberikan perbaikan selama penelitian berlangsung.

2)      Pertemuan Kedua

Kegiatan belajar pada pertemuan kedua ini dilaksanakan pada tanggal 24 Oktober 2012 dimulai pada jam pertama pukul 07.30 s/d 08.50 WIB. Pada pertemuan ini semua siswa hadir, materi yang akan dibahas dalam pertemuan kedua ini adalah mengulang materi pertemuan pertama yaitu lingkungan alam dan buatan.

Pertemuan ini diawali dengan peneliti memberikan pertanyaan kembali tentang materi yang dipelajari. Peneliti kembali dibantu oleh guru (observer) untuk menilai peneliti selama mengajar dan mengamati siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. Pada pertemuan kedua ini merupakan pertemuan terakhir siklus I, pada tahap ini peneliti memberikan soal untuk siswa sebanyak 10 soal.

3)      Tahap Observasi

Berdasarkan hasil observasi pada siklus I maka diperoleh bahwa :

  • Aktivitas belajar siswa masih belum berjalan dengan baik karena masih terlihat beberapa siswa yang tidak memperhatikan bahkan mengantuk saat peneliti menerangkan materi tersebut.
  • Masih banyak siswa yang tidak serius pada kelompoknya masing-masing sehingga kerja sama kelompok kurang terjalin dan secara umum siswa masih belum mempunyai keberanian bertanya.

4)      Tahap Refleksi

Pada siklus ini hasil pembelajaran belum mencapai KKM yang ditetapkan sehingga perlu mengadakan siklus II, hal tersebut disebabkan karena

  • Pada siklus I ini kekurangan yang harus diperbaiki adalah :

–        Pada saat peneliti menyampaikan materi masih ada siswa yang tidak memperhatikan bahkan mengantuk, mungkin karena posisi duduk yang monoton sehingga perlu adanya perubahan posisi duduk agar siswa lebih variatif dan tidak bosan.

–        Dalam kelompok masing-masing belum terjadinya kerjasama yang baik sehingga antara teman satu kelompok terlihat kurang memiliki tanggung jawab.

–        Untuk referensi dalam belajar, siswa hanya terbatas pada buku paket yang dimilikinya saja.

–        Optimalisasi waktu merupakan kendala yang dihadapi ketika belajar

–        Belum terjalin interaksi yang bagus antara peneliti dengan siswa.

  • Hal-hal yang sudah cukup bagus pada siklus I adalah

–        Penggunaan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw penggunaan model tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar.

–        Siswa dapat berperan aktif selama proses pembelajaran serta membuat suasana belajar menyenangkan.

Dari hasil refleksi yang telah dilakukan pada siklus I dapat diambil keputusan sebagai berikut :

  • Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh maka pada siklus I akan tetap menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tioe Jigsaw, dengan menggunakan model tersebut diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan tanggungjawab siswa sesama kelompoknya. Dari hasil analisis masing-masing kelompok akan dilakukan presentasi agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berekspresi secara lisan.
  • Diadakan perubahan posisi duduk sesuai kelompoknya masing-masing dengan demikian diharapkan siswa dapat termotivasi untuk mengikuti pelajaran dengan baik.
  • Peneliti harus dapat lebih baik lagi dalam berinteraksi dengan siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
  1. Siklus II

1)      Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan siklus II merupakan perbaikan dari siklus I perencanaan, dimulai dengan menyiapkan silabus, Recana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyiapkan media digunakan untuk materi tentang lingkungan alam dan buatan, menyiapkan soal pre test dan post test siklus II, membagi siswa ke dalam 5 kelompok kecil masing-masing terdiri dari 5 – 6 orang secara heterogen dan keperluan pembelajaran lainnya.

Materi yang akan dibahas pada siklus II ini mengenai lingkungan alam dan buatan. Sebelum materi ini disampaikan kepada siswa terlebih dahulu peneliti memberikan kesempatan bertanya kepada para siswa. Pembelajaran dilakukan dalam dua kali pertemuan.

2)      Tahap Pelaksanaan

Pada siklus II pelaksanaan dibagi dilakukan dua kali pertemuan dengan materi lingkungan alam dan buatan. Pada saat materi diberikan siswa sudah berada di dalam kelas. Adapun uraian proses pembelajaran pada siklus II sebagai berikut :

  1. a) Pertemuan Pertama

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ini dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2012 dengan materi lingkungan alam dan buatan. Pembelajaran dimulai jam pertama pada pukul 07.30 s/d 08.50 WIB dan pada pertemuan ini semua siswa hadir.

Sebelum pembelajaran dimulai, peneliti memberikan tes awas (pre test) dengan test pilihan ganda sebanyak 10 soal. Tujuannya untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang materi tersebut. Dalam hal ini peneliti dibantu oleh guru mata pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung untuk menilai peneliti selama mengajar di kelas. Serta membantu mengamati aktivitas siswa selama belajar berlangsung yang bertujuan untuk memberikan perbaikan selama penelitian berlangsung. Peneliti memberikan kesempatan menulis dan bertanya kepada siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

  1. b) Pertemuan Kedua

Kegiatan belajar pada pertemuan kedua ini dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2012 dimulai pada jam pertama pukul 07.30 s/d 08.50 WIB. Pada pertemuan ini semua siswa hadir. Materi yang akan dibahas dalam pertemuan kedua ini adalah mengulang materi pertemuan pertama yaitu lingkungan alam dan buatan.

Pertemuan ini diawali dengan peneliti memberikan pertanyaan kembali tentang materi tersebut dengan cara tanya jawab. Peneliti kembali dibantu guru (observer) untuk menilai peneliti selama mengajar dan mengamati siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pada pertemuan kedua ini merupakan pertemuan terakhir siklus II dan pada tahap ini peneliti memberi soal post test untuk siswa sebanyak 10 soal.

3)      Tahap Observasi

Berdasarkan hasil observasi pada siklus II maka diperoleh bahwa :

  • Aktivitas belajar siswa sudah berjalan dengan baik karena hampir seluruh siswa sudah berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran
  • Hampir seluruh siswa serius pada kelompoknya masing-masing sehingga kerjasama antar kelompok mulai terjalin
  • Peneliti kurang mengaitkan antara pelajaran yang sekarang dengan pelajaran yang terdahulu
  • Peneliti harus terus mencari jalan keluar agar siswa dapat menyampaikan ide-ide atau pendapatnya
  • Hasil post test siswa dari 10 soal pilihan ganda telah menjadikan nilai diatas KKM, berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan hampir seluruh siswa sudah mencapai ketuntusan dalam pembelajaran IPS.

4)      Tahap Refleksi

Berikut ini adalah hasil refleksi siklus II

  • Semua objek berpendapat bahwa dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw dapat memudahkan siswa dalam menerima materi
  • Hasil belajar siswa tentang materi kerjasama di lingkungan rumah mengalami peningkatan. Pada siklum II hasil belajar siswa mengalami peningkatan
  • Pada siklus II ini mengalami peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata skor post test siswa yang sudah mencapai KKM dalam pembelajaran IPS.

Setelah dilakukan tindakan pembelajaran berupa kegiatan pembelajaran siklus I dan siklus II diperoleh hasil sebagai berikut :

  • Siswa sudah mampu melakukan belajar dengan lebih baik dan sudah tercapainya iklim kerjasama siswa dalam menghadapi masalah kelompoknya
  • Siswa merasa senang melakukan pembelajaran dengan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw karena melibatkan mereka secara langsung dalam kegiatan pembelajaran
  • Hasil belajar siswa siklus I dan siklus II sudah meningkat
  • Pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw sangat cocok diterapkan pada pelajaran IPS materi lingkungan alam dan buatan.

 

Berdasarkan tes kemampuan pemahaman siswa (pre test dan post test) pada siklus I diperoleh nilai normal Gain ketercapaian indikator pembelajaran pada konsep lingkungan alam dan buatan sebagai berikut :

Tabel 1

Data Hasil Belajar IPS Pre Test dan Post Test Siklus I

No. Siswa Pre Test Siklus I Post Test Siklus I Nilai N-Gain Kategori Keterangan
1. A 40 80 0,67 Tinggi Tercapai
2. B 30 50 0,28 Rendah Belum
3. C 20 70 0,63 Sedang Tercapai
4. D 20 40 0,25 Rendah Belum
5. E 10 60 0,55 Sedang Tercapai
6. F 30 60 0,43 Sedang Tercapai
7. G 30 40 0,14 Rendah Belum
8. H 40 70 0,50 Sedang Tercapai
9. I 20 80 0,75 Sedang Tercapai
10. J 20 70 0,63 Sedang Tercapai
11. K 20 70 0,63 Sedang Tercapai
12. L 30 80 0,71 Tinggi Tercapai
13. M 30 80 0,71 Sedang Tercapai
14. N 30 50 0,28 Rendah Belum
15. O 30 60 0,43 Sedang Tercapai
16. P 50 60 0,20 Rendah Belum
17. Q 30 80 0,71 Tinggi Tercapai
18. R 40 50 0,16 Rendah Belum
19. S 30 60 0,43 Sedang Tercapai
20. T 40 50 0,16 Rendah Belum
21. U 30 40 0,14 Rendah Belum
22. V 30 70 0,57 Sedang Tercapai
23. W 20 70 0,63 Sedang Tercapai
24. X 50 60 0,20 Sedang Tercapai
25. Y 10 40 0,43 Rendah Belum
26. Z 40 80 0,66 Tinggi Tercapai
27. A1 20 30 0,12 Rendah Belum
28. B2 30 40 0,14 Rendah Belum
29. C3 30 80 0,71 Tinggi Tercapai
30. D4 50 60 0,43 Sedang Tercapai
31. E5 20 70 0,71 Sedang Tercapai
32. F6 30 60 0,33 Sedang Tercapai
33. G7 30 50 0,43 Rendah Belum
34. H8 30 40 0,57 Rendah Belum
35 I9 30 60 0,43 Sedang Tercapai
  Rata-Rata N-Gain 0,27 Sedang

 

Berdasarkan tabel 1 tampak terjadi hasil belajar siswa pada konsep lingkungan alam dan buatan sebelum dan sesudah dilaksanakan tindakan pada siklus I. Berdasarkan kategorisasi nilai rata-rata N-Gain 0,27 menunjukkan Gain rendah dan hal ini menunjukkan tingkat efektivitas yang rendah atas perlakuan tindakan pembelajaran menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada konsep lingkungan alam dan buatan.

Untuk lebih memperjelas hasil belajar siswa pada siklus I pada konsep lingkungan alam dan buatan adalah sebagai berikut :

Tabel 2

Statistik nilai hasil belajar IPS siklus I

STATISTIK DESKRIPSI KETERANGAN
Nilai tertinggi 80
Nilai terendah 20
Rata-rata 61,7
Jumlah siswa yang belum tuntas 12
Jumlah siswa yang tuntas belajar 23
Presentasi 65,71%
Nilai KKM 60

 

Namun hasil Tabel 2 Tes Akhir dilaksanakan telah memenuhi ketuntasan belajar. Hal ini disebabkan terdapat siswa yang mendapat nilai di bawah ketuntasan minimal dengan penguasaan konsep yaitu 34,28% pada siklus I ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 65,71%. Hal ini belum memenuhi target yang diharapkan mencapai kriteria pencapaian minimum KKM yaitu sebesar 85%.

Tabel 3

Data Hasil Belajar IPS Pre Test dan Post Test Siklus II

No. Siswa Pre Test Siklus II Post Test Siklus II Nilai N-Gain Kategori Keterangan
1. A 40 50 0,17 Rendah Belum
2. B 50 70 0,40 Tinggi Tercapai
3. C 60 70 0,25 Tinggi Tercapai
4. D 60 80 0,50 Tinggi Tercapai
5. E 40 50 0,17 Rendah Belum
6. F 50 70 0,40 Tinggi Tercapai
7. G 60 70 0,25 Tinggi Tercapai
8. H 70 90 0,66 Tinggi Tercapai
9. I 60 90 0,75 Tinggi Tercapai
10. J 60 80 0,50 Tinggi Tercapai
11. K 50 90 0,80 Tinggi Tercapai
12. L 50 80 0,60 Tinggi Tercapai
13. M 60 70 0,25 Tinggi Tercapai
14. N 40 70 0,.83 Tinggi Tercapai
15. O 70 80 0,75 Tinggi Tercapai
16. P 80 90 0,50 Tinggi Tercapai
17. Q 30 50 0,28 Rendah Belum
18. R 60 70 0,25 Tinggi Tercapai
19. S 40 70 0,50 Tinggi Tercapai
20. T 70 80 0,33 Tinggi Tercapai
21. U 80 90 0,33 Tinggi Tercapai
22. V 30 80 0,71 Tinggi Tercapai
23. W 30 80 0,71 Tinggi Tercapai
24. X 60 90 0,75 Tinggi Tercapai
25. Y 40 50 0,17 Rendah Belum
26. Z 30 70 0,57 Tinggi Tercapai
27. A1 60 70 0,25 Tinggi Tercapai
28. B2 70 90 0,67 Tinggi Tercapai
29. C3 60 70 0,25 Tinggi Tercapai
30. D4 40 70 0,50 Tinggi Tercapai
31. E5 40 80 0,67 Tinggi Tercapai
32. F6 30 70 0,57 Tinggi Tercapai
33. G7 40 70 0,50 Tinggi Tercapai
34. H8 30 70 0,57 Tinggi Tercapai
35 I9 50 80 0,60 Tinggi Tercapai
  Rata-Rata N-Gain 0,50 Sedang

 

Berdasarkan Tabel 3 tampak terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada konsep lingkungan alam dan buatan. Sebelum dan sesudah dilaksanakan tindakan pada siklus II berdasarkan kategori perolehan nilai N-Gain 0,50 menunjukan Gain sedang. Hal ini berarti menunjukan tingkat efektivitas yang sedang atas pelakuan tindakan pembelajaran menggunakan Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada konsep lingkungan alam dan buatan. Untuk lebih memperjelas hasil belajar siswa pada siklus II pada konsep lingkungan alam dan buatan adalah sebagai berikut :

Tabel 4

Statistik Nilai Hasil Belajar IPS Siklus II

STATISTIK DESKRIPSI KETERANGAN
Nilai tertinggi 90
Nilai terendah 30
Rata-rata 74,28
Jumlah siswa yang belum tuntas 4
Jumlah siswa yang tuntas belajar 31
Presentasi 88,57%
Nilai KKM 60

 

Berdasarkan Tabel 4 tampak terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada konsep lingkungan alam dan buatan. Sebelum dan sesudah dilaksanakan tindakan pada siklus II presentase ketercapaian indikator pembelajaran meningkat dari 65,71% menjadi 88,57%. Hal ini menunjukan bahwa ketuntasan belajar siswa mencapai kriteria ketercapaian maksimum yaitu 90%.

 

LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA

DALAM METODE DISKUSI KELOMPOK
SIKLUS I

No. Perilaku siswa dalam melaksanakan diskusi kelompok Frekuensi
Ya Tidak
1. Siswa terlihat canggung berbicara dalam kelompok  
2. Siswa pasif saat diskusi kelompok  
3. Siswa berani mengungkapkan pendapatnya dalam kelompok  
4. Diskusi didominasi hanya oleh salah satu siswa  
5. Siswa mampu mengidentifikasi kenampakan alam dan buatan di lingkungan sekitar  

 

 

LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA

DALAM METODE DISKUSI KELOMPOK
SIKLUS II

No. Perilaku siswa dalam melaksanakan diskusi kelompok Frekuensi
Ya Tidak
1. Siswa terlihat canggung berbicara dalam kelompok  
2. Siswa pasif saat diskusi kelompok  
3. Siswa berani mengungkapkan pendapatnya dalam kelompok  
4. Diskusi didominasi hanya oleh salah satu siswa  
5. Siswa mampu mengidentifikasi kenampakan alam dan buatan di lingkungan sekitar  

 


Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar siswa dari siklus I sampai siklus II dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada pembelajaran IPS dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang cukup signifikan secara presentase nilai yang diperoleh siswa. Jika pada siklus I siswa yang mendapatkan nilai antara 80-100 (sangat baik) hanya 20% (7 orang), pada siklus II menjadi 45% (16 orang) yang berarti mengalami peningkatan sebanyak 25%. Untuk nilai 60-70 (baik) pada siklus I 14% (5 orang) menjadi 11% (4 orang) sedangkan untuk nilai 30-40 (kurang) pada siklus I sebanyak 6 orang juga menurun 0%. Kemudian untuk nilai 0-30 (sangat kurang) pada siklus I sebanyak 2,8% (1 orang) pada siklus II menurun sangat drastis menjadi 0% artinya tidak ada siswa yang mendapatkan nilai 0-30 pada siklus II. Kesimpulannya dari hasil belajar siswa pada siklus I yang tidak menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam proses belajar mengajar, terlihat hasil belajar siswa yang kurang memuaskan. Secara presentase nilai sangat baik hanya mencapai 20% kemudian mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada siklus II yang menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw dalam proses belajar mengajar sehingga menjadi 45% siswa yang mendapat nilai sangat baik. Sedangkan untuk nilai sasngat kurang pada siklus I sebesar 17% menurun sangat signifikan pada siklus II menjadi 0% siswa yang mendapatkan nilai tersebut.

Dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada siklus II sangat membantu guru dan juga peserta didik dalam meningkatkan kualitas belajar mengajar baik secara kognitif yang terlihat dari hasil nilai akademis, juga pada cara efektif dan psikomotorik peserta didik sehingga peserta didik dapat menjadi lebih kritis dalam berpikir dan menganalisis permasalahan dan juga lebih bijaksana dalam bersikap.

Berdasarkan hasil deskripsi yang telah diuraikan sebelumnya diketahui bahwa proses pembelajaran pada siklus I belum mengalami perubahan yang signifikan untuk menciptakan proses pembelajaran yang maksimal. Peneliti melakukan refleksi pada tiap-tiap pertemuan sehingga proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw telah mencapai hasil yang maksimal termasuk pada siklus II.

 

  1. KESIMPULAN

Penelitian tindakan kelas melalui pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw untuk peningkatan hasil belajar IPS pada siswa kelas III MI Dakwah Islamiyah Cawang Baru Jakarta Timur yang dilakukan dalam dua siklus menghasilkan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan hasil belajar IPS dengan pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw selama empat kali pertemuan bisa berjalan dengan baik walaupun pada pertemuan pertama masih terdapat kekurangan-kekurangan.
  2. Terdapat hasil peningkatan IPS melalui pendekatan Cooperative Learning Tipe Jigsaw dengan perolehan N-Gain 0,27 di siklus I dan 0,50 di siklus II.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gunawan, Rudi. 2003.Pendidikan IPS Filosofi Konsep dan Aplikasi.Bandung: AlfaBeta

Sapriya.2008.Pendidikan IPS.Bandung: Laboratorium PKN UPI

Suprijono, Agus.2004.Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi Paikem.Penerbit Pustaka Pelajar cet. VII

Supriya dkk.2006.Pembelajaran dan Evaluasi Hasil Belajar.Bandung: UPI Press

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below