Aksi Screenshoot 33 Kendalikan Penggunaan Sosial Media oleh Pelajar

Oleh    : Asep Mulyana,S.Pd
Tugas  : MTsN 33 Jakarta

 

Organisasi Siswa Intra Sekolah (Osis) MTsN 33 Jakarta lakukan Aksi kegiatan “Screenshoot 33”. Kegiatan ini melibatkan siswa, guru, dan orangtua yang peduli  penggunaan media sosial yang dilakukan oleh para pelajar di lingkungan sekolah masing-masing.

Gerakan screenshoot ini merupakan gerakan pengendalian berupa pemantauan yang dilakukan banyak pihak, lebih utama pelajar itu sendiri. Aksi ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada pelajar yang mengunggah foto-foto negatif, seperti foto merokok, nyisa, tawuran, membuka aurat (khususnya pelajar muslim), dan gaya pacaran yang berlebihan.

Remaja yang memiliki konsep  mencari kepopuleran (nge hits)yang salan menjadi latar belakang munculnya aksi Screenshoot 33.Siapa yang bisa bergabung menjadi anggotanya. Semua terbuka baik  alumni, dan pihak-pihak yang mendukung sehingga mengendalikan penggunakan media sosial pelajar.

Langkah gerakan Screenshoot 33 ini dilakukan dengan sosialisasi berupa edukasi bahwa kepopuleran bukan dengan cara negatif seperti  tidak harus membuka aurat atau menampilkan gaya hidup negatif (merokok, mabuk, tawuran)

Kemudia langkah selanjutnya, tim screenshoot dari tim guru, pembina Osis memberikan waktu untuk menghapus foto-foto negatif pada masing-masing akun pelajar. Dalam hal ini, media sosial yang populer digunakan pelajar, seperti Instagram, Line, dan BBM. Media ini kerap dijadikan ajak mencari hits bagi para pelajar. Namun, sulit bagi pihak sekolah untuk berteman pada akun-akun pelajar tersebut. Mereka banyak yang menolak jika ada akun guru ataupun pihak sekolah follow akun mereka.

Hambatan tersebut diatasi dengan mengajak pelajar yang peduli akan gerakan ini untuk memantau sesama teman mereka agar mudah mendapatkan informasi lebih banyak. Dan ini sifatnya rahasia.

Lalu, bagaimanakah jika masih terdapat foto-foto negatif pada akun pelajar? Tim Screenshoot akan bergerak dengan mengambil gambar (screenshoot) yang kemudian dikirim ke bagian koordinator Screenshoot, yakni guru, kemudian didiskusikan untuk proses pembinaan secara pribadi (koordinator dengan pelajar). Pembinaan ini penting untuk meluruskan pemahaman penggunaaan media sosial yang baik dengan pengarahan bahwa dampak apa yang akan didapatkan pelajar tersebut memalui pendekatan keagamaan dan sosial.

Jika memungkinkan dan dipandang perlu, pihak sekolah bisa bekerja sama dalam pembinaannya bersama orang tua. Kepedulian dan keterlibatan orang tua menjadikan aksi screenshoot ini menjadi lebih efektif dan terpadu.

Aksi ini pun mendapat dukungan dari banyak pelajar tingkat SMP/MTs, SMA/MAN, mahasiswa, pengamat media, pejabat Kementerian Agama, dan jurnalis. Harapan Bapak Presiden Joko widodo untuk menjadikan media sosial wadah untuk hal positif akan terwujud jika aksi ini dilaksanakan secara berkelanjutan dan terpadu, dari lingkup sekolah, komunitas terkecil, hal terkecil, lalu dilakukan di setiap sekolah serentak.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below