MENJADI SEORANG GURU

BIODATA PENULIS

Nama                         : Erna Sari Agusta, S.Pd

TTL                            : Jakarta, 22 Agustus 1983

Alamat                       :   Harapan Baru Jl. Aster IV No. 10 RT.011 RW. 05 Kelurahan Kota baru Bekasi Barat Kode Pos 17139

Pekerjaan                  : Guru

Mapel yang Diampu : Matematika

Tempat Tugas          : MTsN 28 Jakarta

Dulu, guru adalah profesi yang paling banyak diminati oleh kaum hawa. Disamping tugasnya yang ringan dengan waktu kerja setengah hari, seorang guru dapat mengurusi suami dan anak-anaknya di rumah. Tidak banyak tuntutan yang dihadapi oleh seorang guru. Ia datang dan pulang dari sekolah sesuai jam mengajarnya. Tugas kesehariannya hanya mengajar dan memeriksa pekerjaan siswanya. Begitupun dengan para siswa, mereka sangat hormat dan patuh kepada gurunya. Mereka rela melakukan apa pun yang diperintahkan oleh gurunya semata-mata untuk mendapatkan keberkahan ilmu dari sang guru. Tidak pernah terdengar kata-kata tajam dan perlakuan kasar sang murid terhadap sanksi yang diberikan oleh guru. Demikian pula dengan para orang tua siswa yang senantiasa mendukung kebijakan sang guru baik dalam bentuk teguran atau sanksi dalam rangka memberikan pendidikan akhlak kepada murid-muridnya. Tidak ada protes dan keluhan terkait sikap guru dalam menanamkan agama dan budi pekerti, apalagi sampai melaporkannya ke pihak yang berwajib.

Kini, pekerjaan seorang guru tidak seringan dulu. Banyak tuntutan yang harus diselesaikan oleh seorang guru. Sebelum mengajar, seorang guru harus dapar membuat administrasi pembelajaran yang mungkin dapat menyita waktu si guru. Bagimana tidak? Program pembelajaran selama satu semester harus di desain seluruhnya di awal semester. Selain itu, seorang guru harus menyiapkan berbagai rancangan dan rubrik penilaian, mulai dari penilaian sikap yang terbagi menjadi sikap spiritual dan sikap sosial sampai pada sikap pengetahuan dan keterampilan. Hal ini tentu tidak mudah, seorang guru harus dapat menganalisis kompetensi-kompetensi apa yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan regulasi yang ada. Tuntutan kualitas output yang harus menguasai 4C (critical thinking, creative, colaboratif, dan comunicatif) membuat guru harus berpikir bagaimana mendesain pembelajaran yang dapat mengcover itu semua.

Bukan hanya itu, di era digital seperti saat ini, seorang guru harus dapat menguasai teknologi IT dan komputerisasi. Semua bentuk pekerjaan guru kini pun lebihbanyakmenggunakan bentuk aplikasi. Bisa dibayangkan jika semua pekerjaan berbasis aplikasi, maka besar kemungkinan seorang guru akan membawa laptopnya ke kelas untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dan apa yang terjadi dengan siswanya?, dapat dipastikan situasi belajar menjadi kurang kondusif karena kurangnya perhatian guru selama proses pembalajaran. Memang pembelajaran untuk kurikulum 2013 ini, diarahkan pada student oriented artinya pembelajaran yang difokuskan kepada siswa, dimana tugas guru hanya membelajarkan siswa dan membantu siswa menemukan cara belajarnya. Tapi pada kenyataannya, banyak guru yang “lepas tangan” selama proses pembelajaran. Dengan dalih membelajarkan siswa, seorang guru menyuruh siswanya untuk membrowsing informasi dari internet tanpa mendampingi mereka menemukan apa yang menjadi tujuan pembelajaran. Kebebasan belajar seperti ini terkadang membuat siswa menganggap sosok guru menjadi kurang begitu penting karena kurangnya peranan yang dilakukan oleh guru selama proses belajar mengajar.

Namun demikian, penilaian dari suatu kegiatan belajar yang sejatinya dilakukan oleh siswa itu sendiri, terkadang menjadi hal yang sangat membebani seorang guru. Apalagi kalau dihadapkan pada siswa dengan kemampuan akademik sangat kurang.  Bagaimana tidak? Rendahnya hasil capaian kompetensi yang diraih oleh siswa tersebut membuat guru harus menentukan program remedial apa yang harus diberikan untuk membuat siswa mencapai nilai KKM. Pembelajaran tutorial sampai belajar kelompok pun diselenggarakan agar siswa tersebut dapat mencapai tujuan kompetensi yang diinginkan. Alhasil seorang guru tetap saja memberikan “shodaqoh nilai” kepada siswa tersebut karena kebijakan sekolah yang tidak boleh menuliskan nilai di bawah KKM pada rapot. Mungkin bagi anak yang tidak punya catatan perilaku buruk tapi lower student, hal itu masih bisa ditoleransi. Tapi bagi siswa yang sudah sering mendapat catatan perilaku buruk, maka tindakan seperti itu hanya akan membuatnya meremehkan guru dan mata pelajaran yang diampu guru tersebut.

Untuk dapat meminimalisir hal tersebut, maka disinilah peran seorang guru yang utama yaitu mendidik siswa agar mempunyai sikap dan akhlak yang terpuji. Karena betapapun kemampuan akademik tanpa diiringi oleh pendidikan agama dan budi pekeri yang baikhanya akan melahirkan generasi mobrok dan bermental rapuh. Hal inilah yang membuat pemerintah melalui kurikulum 2013 mencanangkan penguatan pendidikan karakter di sekolah. Tidak bisa tidak, pembentukan karakter agamis dan pancasilais menjadi tanggung jawab semua guru.

Mendidik siswa agar memiliki nilai-nilai Ilahiyah dan berbudi pekerti luhur tidaklah mudah, apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini. Banyak tantangan dan hambatan yang akan dihadapi. Mudahnya siswa mengakses berbagai informasi melalui jaringan internet tanpa adanya filtrasi yang dapat mengcounter segala kemungkinan yang dapat merusak, membuat tugas guru kian bertambah. Bahkan ia seolah berada pada suatu keadaan yang dilematis, yaitu antara menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan tekonologi atau membentengi siswa dari pengaruh buruk yang timbul dengan adanya fasilitas belajar tersebut.

Jika dulu seorang guru mempunyai hak dan wewenang sepenuhnya untuk memberikan treatmen kepada siswa baik dalam pemberian sanksi maupun hukuman. Tidak demikian halnya dengan saat ini. Segala bentuk pendidikan akhlak dalam pemberian sanksi dan hukuman dibatasi. Seorang guru tidak diperkenankan memarahi apalagi sampai melakukan hukuman fisik kepada siswa, walaupun dalam kenyatannya siswa tersebut sering membangkang dan melawan terhadap guru. Hal inilah yang membuat sebagian guru lalu bersikap apatis dan masa bodoh dengan perilaku buruk siswanya karena takut dalam berucap dan bertindak yang menyebabkan mereka justru akanberhubungan dengan pihak yang berwajib.

Setiap siswa pastinya mempunyai indikasi untuk berperilaku buruk. Tapi yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa siswa pada saat ini banyak yang tidak hormat dan tidak patuh kepada gurunya? Hilangnya rasa hormat dan patuh siswa inilah yang kerap mendatangkan perilaku buruk pada siswa tersebut. Coba bandingkan dengan masa lalu saat seorang guru mengenyam pendidikannya, jarang sekali timbul perilaku buruk diantara teman-temannya. Semua siswa belajar dengan tekun, patuh dan hormat pada gurunya hingga mereka menjadi orang-orang sukses pada hari ini. Lalu dimanakah letak kesalahannya? Apakah sudah hilang keikhlasan guru dalam mengajar? Ataukah keberkahan ilmu telah dicabut dikarenakan banyaknya maksiat yang dilakukan oleh guru dansiswa? Tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali guru dan siswa itu sendiri.

Mari tengok dan bandingkan kehidupan guru dulu dengan sekarang. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan terutama dalam kesejahteraannya. Gaji guru dulu sangatlah minim, jika dihitung-hitung tidak mungkin rasanya terpenuhi kebutuhan hidup sang guru. Mengajar satu bulan tetapi yang dibayar hanya satu minggu. Belum lagi jauhnya sekolah dari tempat tinggal membuat gaji guru kian menipis untuk diserahkan kepada keluarga. Bahkan untuk mengirit pengeluaran, banyak guru yang memilih berjalan kaki atau bersepeda ontel untuk sampai ke sekolah. Tapi dengan keadaan seperti itu, seorang guru tetap dapat menghidupi dan mengurus keluarganya. Kegiatan belajar tetap berjalan walaupun dengan fasilitas seadanya. Tidak pernah terdengar adanya perilaku buruk yang ditimbulkan siswa. Semua siswa hormat dan patuh pada gurunya. Hingga di saat ini mereka menjadi orang-orang yang sukses. Semua ini tidak lain semata-mata karena keikhlasan sang guru dalam mengajar sehingga ilmu yang didapatkan oleh siswa pun menjadi berkah.

Kini, gaji guru sudah lebih dari cukup, ditambah lagi dengan adanya tunjangan profesi dan dana hibah dari pemerintah setempat. Dengan pendapatan tersebut sudah sepatutnyalah seorang guru memberikan dedikasi terbaiknya pada dunia pendidikan. Tapi ironinya, kelebihan pendapatan tersebut bukan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran atau peningkatan mutu sang guru, melainkan digunakan untuk hal-hal yang bersifat subjektif dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Banyak guru yang sudah mendapatkan tunjangan profesi dan dana hibah, mereka gunakan untuk membeli barang-barang yang dapat meningkatkan prestice mereka di masyarakat. Tidak sedikit pula guru yang menggunakan tunjangan profesi dan dana hibah mereka untuk mencicil kendaraan dan membeli barang-barang mewah lainnya. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat kehidupan guru menjadi terseok-seokmanakalapembayarantunjangandan dana hibahtersebutditangguhkan.

Jika tunjangan profesi dan dana hibah ditunda pembayarannya maka sang guru pun akan merasa kelimpungan dengan banyaknya beban pengeluaran yang dialokasikan dari dana tersebut. Pada akhirnya sang guru akan tidak fokus pada pekerjaan yaitu mengajar, ia kan berusaha untuk mencari bisnis sampingan yang dapat memberikan tambahan income untuk menutupi segala kebutuhannya. Bahkan tak jarang guru meninggalkan kewajibannya di sekolah demi menggeluti bisnis tersebut Jika sudah seperti ini maka dapat dibayangkan bagaimana situasi dan kondisi kelas yang ditinggalkannya. Jika ini dibiarkan terus menerus maka secara tidak langsung seorang guru telah menanamkan karakter yang buruk pada siswanya yaitu tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya. Maka jangan disalahkan jika suatu saat seorang siswa lalai dalam mengerjakan tugas atau PR disebabkan oleh kesibukkan mereka di luar sekolah.

Kembali pada sikap siswa yang didasari oleh keikhlasan guru dalam mengajar. Banyak guru yang lebih cenderung mengajar dan memberikan perhatian kepada siswa yang berlatar belakang keluarga mampu, sedangkan siswa yang berasal dari golongan masyarakat menengah ke bawah mereka abaikan, dengan alasan orang tua siswa dari keluarga mampu akan lebih mendukung program-program sekolah daripada orang tua siswa yang ekonominya menengah ke bawah. Terkadang juga seorang guru suka membedakan bentuk pelayanan antara siswa yang pintar dengan yang kurang pintar dengan alasan siswa yang pintar akan lebih membawa pencitraan dan nama baik si guru dan sekolah daripada siswa yang kurang pintar. Bentuk lain ketidak ikhlasan guru adalah tidak relanya mereka untuk memberikan jam tambahan diluar waktu kerjanya, seperti membimbing siswa lower sepulang sekolah ataumemberikan bimbingan rohani kepada siswa yang terindikasi berperilaku buruk di sela-sela waktu luangnya. Semua kelebihan tenaga dan pikiran mereka yang tidak mendatangkanbenefitcenderung mereka tinggalkan. Atau jika pun mereka kerjakan maka akan menjadi suatu keterpaksaan. Jika semua pekerjaan yang dilakukan dengan terpaksa, bagaimana mungkin akan mendatangkan keberkahan. Jika keberkahan sudah hilang maka yang timbul hanyalah kesia-siaan.

Harus diakui, waktu kerja guru yang dimulai pukul 06.30 – 15.00 WIB tampaknya mengundang problematika sendiri dalam kehidupan seorang guru. Jangankan untuk anak didiknya, waktu dan perhatian lebih pun sukar diberikan untuk anak kandungnya sendiri. Coba bayangkan, seorang guru harus berangkat dari rumahnya sebelum matahari terbit. Dalam waktu itu, mungkin saja seorang guru berangkat lebih dulu meninggalkan anak-anaknya. Hanya sepiring nasi goreng atau sepotong roti dan segelas susu yang ditinggalkan untuk pengganjal perut putra putrinya yang hendak ke sekolah. Sampai di sekolah mereka harus mempersiapkan diri dan semua bahan pendukung untuk mengajar. Apapun yang mereka alami selama perjalanan tidak boleh mengganggu dan menurunkan konsentrasi serta semangat mengajarnya. Pulang ke rumah pada sore hari dengan membawa segudang keletihan. Permasalahan siswa pun terkadang ikut mengiringi perjalanan pulangnya sampai ke rumah. Sementara anak-anak mereka menanti di rumah dengan sejuta harapan pula. Berharap untuk dibimbing belajarnya, berharap untuk ditemani membeli kebutuhan sekolahnya, atau berharap akan mendapat tempat mencurahkan isi hati. Hal itulah yang membuat guru enggan untuk melebihkan waktu kerjanya karena mereka harus membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarga.

Menyikapi waktu yang lebih banyak habis di sekolah, maka hendaknya seorang guru harus dapat mengoptimalkan jam kerjanya. Disinilah manajemen waktu diperlukan. Seorang guru harus dapat menyelesaikan semua pekerjaannya pada hari itu, seperti memeriksa pekerjaan siswa, memberikan bimbingan akademik kepada siswa yang kemampuan belajarnya rendah, memberikan bimbingan rohani kepada siswa yang yang mempunyai catatan perilaku buruk, sampai mengevalusi hasil kerjanya hari ini. Semua ini tentu bisa dilakukan karena dalam satu minggu mengajar, seorang guru hanya memakai 24 jampelajarandalamwaktusatuminggu untuk masuk ke dalam kelas. Selebihnya dapat digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung keprofesian seorang guru. Agak kurang amanah, jika waktu diluar kelas digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, misal dengan mengobrol, makan bareng, nonton bareng, atau bahkan dipakai jalan-jalan untuk membeli kebutuhan pribadi.

Guru ibarat motor yang dapat membawa perubahan pada diri siswa dan sekolah. Menjadi guru hebat bukanlah hal yang sulit, yang penting bisa memahami karakteristik siswa. Berikan tanggapan yang baik atas ungkapan yang diberikan oleh siswa. Jadikan mereka pembelajar dan penentu hasil pencapaian kompetensinya sendiri. Selalu kedepankan positive thinking terhadap sikap mereka. Bantu mereka menemukan cara belajarnya. Jangan pernah patahkan semangat belajar mereka dengan ucapan-ucapan yang menyakiti hati dan kata-kata pembodohan karena pada hakikatnya setiap manusia dilahirkan dengan kapasitas otak yang sama. Hanya bagaimana seorang guru dapat memaksimalkan kerja fungsi otak tersebut, mengasahnya dengan terus menerus menerima dan memberikan informasi. Bangun kepercayaan diri mereka dengan selalu memberikan reward atas hasil kerjanya. Benar atau salah, itu hanyalah sebuah proses. Tapi menumbuhkan semangat dan minat siswa untuk belajar itu yang paling penting. Karena belajar yang tidak diiringi dengan motivasi tidak akan bertahan lama dan tidak akan memberikan dampak yang siginifikan pada diri siswa.

Dalam mengajar, terkadang seorang guru terlalu cepat menjustifikasi siswa, menganggap bahwa siswanya tidak akan mampu untuk memahami pelajaran apalagi menyelesaikan tugas yang diberikan. Jika siswa tersebut bertanya hanya palingan muka yang diterimanya. Sikap guru seperti ini lambat laun menimbulkan perasaan depresi pada diri siswa tersebut, menganggap dirinya bodoh dan pada akhirnya menimbulkan sikap apatis terhadap pelajaran tersebut. Begitupun dalam mendidik, hindari apriory terhadap siswa, anggap semua siswa pada dasarnya adalah baik. Jika dalam proses pendidikan ditemukan siswa yang berperilaku buruk maka itu menjadi tugas guru untuk membimbing kearah yang baik. Siswa yang berperilaku buruk umumnya hanya adalah anak-anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya. Ia akan berbuat apa saja untuk menarik perhatian guru, walaupun terkadang perbuatannya itu melanggar aturan dan tata tertib sekolah.

Tidak perlu kekerasan dalam menghadapi siswa seperti ini. Seorang guru hanya perlu memberikan sentuhan kehangatan kepada siswa tersebut (hipno teaching), misal dengan memberikan sapaan yang lembut, memberikan komentar yang positif tentang cara berpakaiannya, atau bertanya tentang keadaannya. Dengan metode hipno teaching maka siswa akan merasa bahwa guru tersebut memperhatikannya, dan dengan sendirinya akan timbul rasa simpati terhadap guru tersebut. Siswa yang bersimpati terhadap gurunya akan mampu melakukan apapun yang dimnta oleh gurunya, seperti mengikuti pelajaran dengan baik dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Inilah yang disebut mendidik dengan hati. Mengapa harus dengan hati? Karena hatilah yang memberikan pengaruh paling besar terhadap kerja fungsi organ tubuh lainnya. Jika hati baik maka baiklah semua anggota tubuh dan jika hati penuh penyakit maka sakitlah semua anggota tubuh.

Seorang guru harus tahu betul tentang latar belakang siswanya. Bagaimana ia menempuh perjalanan ke sekolah?, berapa uang jajan yang diberikan orang tuanya? Bagaimana situasi dan kondisi rumahnya? Siapakah teman-teman yang suka bermain dengannya?. Semua ini harus diketahui karena hal-hal inilah yang mempengaruhi sekaligus mendukung keinginan siswa untuk belajar. Coba bayangkan seorang siswa yang berangkat dari rumahnya yang jaraknya cukup jauh dengan berjalan kaki, lalu membawa uang jajan yang hanya cukup dipakai untuk sekali jajan. Sementara di sekolah ia harus menguras tenaga dan pikirannya untuk belajar selama7,5 jam. Apakah mungkin materi pembelajaran yang diberikan oleh gurunya dapat terserap sempurna ke dalam otaknya, sementara ia kekurangan nutrisi yang membantu kerja fungsi otaknya?, jawaban tentu tidak.

Selain itu, coba renungkan seorang siswa yang tinggal hanya dalam ruangan 4m x 4m dengan jumlah anggota keluarga empat orang dimana semua aktifitas terjadi di situ, mulai dari memasak sampai tidur. Bagaimana seorang siswa dapat konsentrasi dalam belajar ataupun mengerjakan PR, sementara ruangannya tidak kondusif?  Jangankan untuk belajar, untuk menetap dirumahnya pun enggan karena ruangan yang kecil. Akhirnya ia pergi keluar rumah mencari tempat yang lebih nyaman. Kalau sudah seperti ini besar kemungkinan mereka bergaul dengan orang-orang yang kurang baik perilakunya, Permasalahan seperti ini bukan saja melanda satu atau dua orang siswa, dan sudah sewajarnya guru bekerjasama dengan pihak sekolah danseluruhstakeholderuntukmemikirkan solusi atas permasalahan ini.Jika sebagian besar siswa mempunyai latar belakang seperti ini lalu berdampak pada buruknya perilaku maka tidak sewajarnya guru memberikan nilai sikap siswa tersebut dengan predikat buruk. Mendidik adalah proses yang membutuhkan waktu agak panjang. Jika seorang guru membiasakan siswa untuk berperilaku baik, maka mungkin hasilnya akan dilihat setahun kemudian, atau bahkan setelah siswa itu lulus dari sekolahnya. Oleh karenanya penilaian sikap disajikan tidak dalam bentuk angka-angka, melainkan dalam bentuk predikat yaitu baik.

Tugas guru kian hari kian bertambah.Seiring dengan pemberian tunjangan profesi, maka tuntutan untuk menjadi guru yang profesional terus digalakkan. Seorang guru harus aktif dalam mencari setiap informasi, update terhadap setiap perubahan, dan mempunyai misi yang jelas dalam mencerdaskan anak bangsa. Kegiatan belajar mengajar di desain ke arah pembelajaran virtual berbasis komputer, penilaian tengah dan akhir semester dilaksanakan dengan menggunakan program CBT (Computer Based Test).Penilaian yang autentik menyebabkan guru harus selalu siap dengan jurnalnya di dalam kelas. Dokumen dan bukti fisik pendukung pengajaran harus disiapkan dalam rangka penilaian kinerja guru. Belum lagi guru yang merupakan anggota ASN harus dapat mengembangkan diri melalui kegiatan workshop, seminar, lokakarya dan kegiatan kolektif guru lainnya. Selain itu adanya persyaratan kenaikan pangkat dan golongan mengharuskan seorang guru mengikuti diklat dan menghasilkan berbagai karya tulis ilmiah dan pubilkasi ilmiahlainnya. Semua tuntutan tersebut bukanlah sesuatu yang sulit. Semua dapat dilaksanakan dengan catatan adanya keinginan guru untuk belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Karena majunya suatu bangsa dapat diihat dari kualitas pendidiknya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below